Tuesday, October 30, 2012

“Zhu Xian Indonesia - Main Line Chapter 42 Blooddrop Cave Bag. B“


Main Line Bab 42 Gua Tetesan Darah B
 Bilu terkejut, memutar matanya, lalu tersenyum:. "Anda salah..... saya berkata, kita sekarang berada di jalan buntu, jika tidak ada jalan keluar, kita pasti akan mati di sini. Tapi dibelakang kita, ada Gua Tetesan Darah. Jika kita dapat menemukannya, mungkin saja ada jalan keluar di sana! " Shaw Danon setuju, itu logis. Untuk bertahan hidup, itu bukan ide yang buruk untuk mencari Gua tetesan darah, karena mungkin ada jalan keluar disana, jika tidak mereka tetap saja akan mati.

Tapi jiwa pemarah & keras kepalanyalah yg mengabaikan makanan yg diserahkan Bilu kepadanya. Dia bangkit dan menatap batu-batu merah lagi. Bilu tidak marah. Dia menatap punggungnya dan tersenyum, dan kemudian dia juga melihat di bagian atas gua.

Tujuh batu merah berbaris dalam bentuk pengait di dinding bagian atas. Selain warna merah, tidak ada perbedaan dibanding batu lainnya. Shaw Danon melihat untuk sementara waktu dan tidak bisa menemukan apa-apa dari itu. Ia berencana untuk memukul batu-batu. Tapi kemudian ia teringat Bilu telah mencoba segalanya, jadi dia menyerah.

Pertama, keduanya mengangkat kepala mereka dan mengamati, tetapi kemudian, mereka sudah lelah dan duduk di tanah. Akhirnya, Shaw Danon tidak peduli lagi dengan kesopanan, orang mati tidak butuh itu. Dia berbaring di tanah dan melihat bagian atas gua. Setelah beberapa saat, tanpa disadari, ia mengantuk dan tertidur.

Setelah tertidur beberapa saat lamanya. Ketika Shaw Danon terbangun dan membuka matanya, ia menemukan Bilu masih menatap tujuh batu merah dengan mata cerah nya.

Shaw Danon cukup mengagumi gadis ini dalam hatinya. Dia duduk, namun tiba-tiba perutnya tiba-tiba bergemuruh lagi. Tampak sepertinya sangat lapar, benar-benar tidak peduli dengan wajah tuannya.

Gua awalnya tenang kecuali terdengar suara air. Suara gemuruh yang dikeluarkan dan segera tertangkap oleh telinga Bilu itu. Dia berbalik menatapnya.

Shaw Danon malu. Seseorang bisa mati, tapi wajah tidak pernah boleh kalah. Dia segera memalingkan wajah dan tidak memandang Bilu. Tapi dia bisa merasakan wajahnya terbakar. Dia tertawa hampa, lalu berjalan ke kolam, ingin minum air untuk meringankan kelaparan.

Air dari kolam kemungkinan besar mata air yg datang dari bawah tanah. Selain kesejukan seperti es, itu juga sedikit manis. Tapi setelah Shaw Danon meminumnya, rasa lapar di perutnya menjadi semakin kuat.

Tapi air tidak dapat menggantikan makanan. Shaw Danon mendesah dan menatap air kosong. Air yang jatuh dari atas gua, menitik di atas air dan menciptakan gelombang riak. Di bawah air,  mencerminkan wajah merananya, yg sedikit merah .......

sedikit merah ?

Shaw Danon tiba-tiba terkejut, mengapa ada pantulan air yg memiliki warna kemerahan. Dia memeriksa dan melihat ada beberapa titik-titik merah pada bayangan itu. Tapi itu tidak benar. Dia coba mendekat, kemudian melihat dinding batu. Itu merupakan refleksi batu merah di atas air dan dikombinasikan dengan bayangannya sendiri.

Shaw Danon lega. Tetapi pada saat itu, sesuatu muncul dalam benaknya. Dia mengambil langkah mundur, menatap air. Dia melihat refleksi dari tujuh batu merah perlahan-lahan muncul di kolam diantara riak. Karena mereka adalah refleksi, lapisan mereka tidak terlihat lagi seperti kait aneh, tetapi lebih seperti telapak tangan.

Shaw Danon berdiri di sana dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Saat itu, ia tiba-tiba ragu-ragu. Seperti dia berdiri di persimpangan, tapi ke mana ia harus pergi?

Setelah perasaan itu berlalu, ia berbalik: "Hei!" Bilu masih melihat dinding batu di atasnya. Dia berkata tak acuh: "Saya bukan 'hey'. Itu katamu ketika kita pertama kali bertemu.." Shaw Danon berhenti, kata-kata yang hendak keluar ditelan kembali. Tapi untuk beberapa alasan, ia memiliki kesabaran yg tidak biasa terhadap gadis sombong ini. Dia mengatakan: "Lalu siapa kamu?" 
Bilu berbalik dan tersenyum, mengatakan: "Saya Bilu.."

Shaw Danon mengulang dua kali dalam hatinya, lalu menggeleng, berkata: "Kemari dan lihatlah!" Bilu sedikit bingung, bangkit dan berjalan kearahnya kemudian berkata: "Apa?"

Shaw Danon menunjuk ke air. Bilu menunduk ke bawah dan melihat. Dia melihat gelombang air, tetapi setelah dia fokus, dia bisa melihat telapak tujuh batu merah seperti tercermin disana.

Bilu terkejut, ia dengan cepat berbalik, mengatakan: "Ini adalah ......" Shaw Danon menggelengkan kepalanya: "Saya tiba tiba melihatnya, itu mungkin bukan, tapi mungkin juga ......."

Sebelum ia selesai, Bilu sudah mengatakan: "Tidak peduli apa, kita perlu mencobanya." Lalu dia tidak mengatakan hal2 tak berguna lagi dan langsung melangkah ke dalam air.

1 comment:

Anonymous said...

kemarin menunggu seharian sambungannya dengan gelisah, akhirnya muncul juga, semangat suheng, lanjuttt!!!!.....