Saturday, November 03, 2012

“Zhu Xian Indonesia - Main Line Chapter 44 Golden Bell Bag. B [TAMAT]“

Main Line Bab 44 Lonceng Emas B [TAMAT]

Bilu kaget, kemudian menyadari hal yang paling penting sekarang adalah mencari jalan keluar, bergegas bertanya: " Anda menemukannya ?"

Shaw Danon menggeleng diam-diam. Mereka melihat satu sama lain. Bilupun tersenyum, mengatakan dengan sungguh-sungguh: "Jadi pertama tama kita harus menemukan jalan keluar!"

Dengan kematian di depan mereka, Shaw Danon diam-diam setuju. Mereka mencari terowongan dan gua bersama-sama. dengan cermat memeriksa setiap dinding, setiap celah. Shaw Danon mengabaikan keberatan dari Bilu, ia bahkan memeriksa dua patung Bunda Nether dan Surga Vidyaraja, tapi masih tidak bisa menemukan apa-apa.

Ketika mereka berkumpul kembali di depan kerangka yg berserakan, melihat tampilan depresi satu sama lain, wajah mereka meredup.

Bilu berkata sedih: "Apakah kita akan mati di sini?"

Shaw Danon menurunkan kepalanya, tidak bisa melihat wajahnya. Bilu juga diam. Tiba-tiba, bayangan kematian melanda kehidupan muda mudi itu.

Setelah waktu yang lama, dalam diam keduanya tidak mengatakan apa-apa, Shaw Danon tiba-tiba melompat dan pergi. Bilu terkejut, mengatakan: "Apa yang kamu lakukan?"

Shaw Danon mengertakkan giginya, mengatakan: "Saya akan mencari sekali lagi. Harus ada jalan keluar. Kita tidak akan mati di sini..!"

Dalam hatinya, masih ada kalimat yang tidak dia katakan dan terdengar dalam dirinya: Aku harus melihat Shijie Ling'Er lagi, bahkan jika aku mati, aku harus terkubur di Puncak Bambu!

Bilu tidak melakukan apa-apa, hanya duduk di panggung, menonton Shaw Danon melanjutkan pencarian dengan keinginan yang kuat untuk hidup.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Empat kali.

Bilu tidak bisa mengingat berapa banyak waktu Shaw Danon telah pergi melalui ruang batu dan gua. Setiap kali ia kembali dengan tangan hampa. Tapi dia masih tidak menyerah. Mungkin itu sifat keras kepala, atau mungkin itu adalah keinginan yang kuat untuk hidup, ia terus  melanjutkan mencari jalan keluar, terus, terus .......

Sampai kakinya mulai gemetar, sampai ia kehabisan kekuatan, ia sampai disebelah Bilu, berayun ke samping dan jatuh. Ia jatuh dengan keras ke tanah dan pingsan.

Bilu menatapnya. Ragu-ragu sejenak, lalu berjalan kepadanya dan membalik tubuhnya ke atas. Tampaknya tidak ada yang serius, hanya lapar ditambah kelelahan dan kehausan, sehingga ia jatuh pingsan. Dia mendesah lega.

Lalu ia kaget, bertanya pada diri sendiri di dalam hatinya: "Mengapa saya cemas, dia baik-baik saja mengapa saya harus menghela napas?"

Gagasan yang melintas dalam pikirannya seperti cahaya.

Dia tajam menatap shaw danon. Pada wajah pemuda itu, terlihat merana karena cedera dan kelaparan. Bibirnya yang retak karna kekeringan.

Bilu lembut membaringkannya dia. Menatapnya sejenak, kemudian berkata: "Karena kita dimaksudkan untuk mati bersama-sama di sini, saya tidak ingin ditinggal sendirian terlalu cepat. Lebih baik untuk memiliki seseorang bersama saya.."

Dia pergi ke luar dan kembali ke pintu masuk gua untuk mengambil air dari kolam. Lalu ia mengambil beberapa makanan dan mencoba untuk memberi makan Shaw Danon.

Mungkin karena Shaw Danon tidak sadarkan diri, dia tidak bisa makan makanan, hanya minum air dari kantong air Bilu itu. Dia masih belum bangun.

Setelah seharian bekerja, Bilu juga lelah. Keadaan shaw Danon saat ini tampaknya baik-baik saja. Dia menutup mata dan jatuh tertidur.

Setelah beberapa saat tidur, Bilu bangun. Tindakan pertamanya adalah segera menatap Shaw Danon. Shaw Danon masih damai berbaring di sana, tidak bergerak. Dia sedang tidur. Dia lega, tidak bisa menahan diri dia marah dalam hati: "Mengapa tidur seperti babi mati!"

Saat dia berbicara, dia sendiri tersenyum. Rasanya saat menonton pemuda ini, suasana hatinya menjadi lebih baik, dia bahkan lupa akan kematian yg semakin dekat.

Dia tiba-tiba menyadari bahwa meskipun Shaw Danon sedang tidur, wajahnya merona kemerahan. Sedikit tidak benar. Dia cepat menggapai tangannya dan memeriksa. Dahinya terbakar panas. Dia terkejut, tidak mengharapkan Shaw Danon dapat memiliki demam begitu tinggi pada saat kritis seperti ini.

Biasanya, Kultivator memiliki tubuh yang kuat, hampir tidak mendapatkan sakit selama ratusan tahun. Namun Shaw Danon itu terluka berat selama beberapa hari terakhir, mental dan fisiknya lelah, tubuh rusak parah. Pada akhirnya, tanpa peduli kondisi tubuhnya, ia menggunakan seluruh kekuatannya untuk mencari jalan keluar di Gua Blooddrop. Setelah pingsan, ia memiliki demam tinggi.

Penyakit ini tidak ringan, setelah lama demamnya tidak juga turun (di gua, Bilu tidak tahu berapa hari). Bilu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa membantunya dengan memberi air untuk menurunkan suhu tubuhnya, tapi itu tidak berguna.

Beberapa hari kemudian, demam Shaw Danon masih belum hilang, ia mulai mengatakan hal-hal ngawur. Bilu sangat khawatir dan cemas. Ketika ia memikirkan dia perlu menunggu kematian di gua sendiria saja, dia takut. Jadi saat Shaw Danon mengatakan sesuatu, bahkan terengah, rasanya seperti surga dibandingkan dengan hari-hari mengerikan kemudian.

Tidak peduli bagaimana Bilu mencoba, dia hanya bisa membawa air. Dalam gua, tidak ada dokter atau obat2an. Bagaimana ia bisa menolong. Penyakit shaw Danon itu mulai memburuk hari demi hari. Igauannya semakin sering.

Hari itu, Bilu hanya bisa cemas disebelah  Shaw Danon yg belum sadar. Shaw Danon tiba-tiba berbalik dan meringkuk, menangis: "Hantu, hantu, hantu ......." Lalu tiba-tiba berkata dengan marah: "Kau membunuh orang tua saya, membunuh semua penduduk desa, saya akan membunuhmu!"

Bilu terkejut, cepat menahannya, terus berkata: "Tidak, tidak ada hantu, tidak ada hantu di sini !!"

Mungkin kata-katanya mujarab, Shaw Danon tenang. Rasa takut di wajahnya juga hilang, tapi kemudian berubah menjadi ekspresi sedih.

Matanya dekat, berkata pelan: "Shijie, Shijie, jangan tinggalkan aku, aku, aku ingin .....jangan tinggalkan aku ......"

Bilu terkejut, sedih melewati hatinya, tapi keberanian keluar darinya, ia dengan lembut berkata: "Tidak,  Shijie Anda ada di sini, dia tidak akan meninggalkan Anda!."

Senyum segera muncul di wajah Shaw Danon, itu seperti momen paling bahagia bagi Shaw Danon . Mulutnya terus bergumam: "Shijie, Shijie ......."

Bilu melihat kedamaian di wajah yg menderita itu, rasa sakit mengiris hatinya.

Gadis yang ia pedulikan begitu rupa, Shijie yang masih ia ingat bahkan ketika ia tidak sadar, seperti apakah dia?

Dia ingat hari itu di bawah Forsaken Abyss, murid Jadeon perempuan dengan pedang biru yang berusaha dilindungi Shaw Danon. Mungkinkah, dia?

Bilu mengerutkan dahi. Dia bisa ingat bahwa wanita ttu memiliki wajah yang sangat cantik. Bahkan jika dikatakan dia bisa menyihir seluruh negeri, itu tidak terlalu berlebihan. Tak heran Shaw Danon akan jatuh cinta kepadanya! Tapi tak peduli seberapa pintar Bilu, dia tidak akan tahu, satu satunya obsesi Shaw Danon  adalah Hidi  yang masih tinggal di Gunung Jadeon Bamboo Peak.

Untuk hari-hari berikutnya, Bilu selalu tinggal di samping Shaw Danon. Dia belajar lebih banyak tentang Shaw Danon dari pembicaraan dalam tidurnya. Dia tahu dia terlahir dalam panggilan tempat "Desa Grasstemple", dia menemukan peristiwa tragis di desa, ia juga menemukan wanita yang jadi obsesinya adalah  Shijie di Puncak Bambu, tapi ia tidak bisa memastikan adalah bahwa Shijie adalah orang yang punya pedang biru saat itu.


Hanya, dari hari-hari mengurus Shaw Danon, Bilu bisa merasakan dia punya perasaan aneh terhadap pemuda itu. Setiap hari menatap wajah tertekan itu tampaknya menjadi satu-satunya cara untuk menghabiskan waktu membosankan.

Dia sering menatapnya seperti itu untuk waktu yang lama, lama. Tapi dia tidak pernah berpikir tentang ruang batu di sampingnya, naskah suci "Liburis" Felkin .

Kadang, ketika Shaw Danon tenang, ia perlahan-lahan berjalan ke tulisan yang ditinggalkan oleh Lady Jingling. Menatap sejenak, lalu dengan lembut berkata: "Lady, Anda telah meninggalkan peringatan bahwa, semua laki laki di dunia ini tak berperasaan. Tapi Anda bisa lihat, Shaw Danon ini, dia sangat tergila-gila pada seorang wanita!"

Tapi tidak ada yang menjawab dia di gua ini kosong. Hanya ketika ia berbalik,  bel emas mengeluar sedikit suara menyenangkan yang jelas, di sisinya, di gua ini, lembut bergema, tampak seperti mengatakan sesuatu.

Seperti ada sepasang mata yang lembut, dan jiwa dari masa lampau, mengawasi mereka, mengelilingi mereka.
---------------------------------
Jalur utama sudah tamat
---------------------------------
target dan pencapaian gw pribadi sudah terpenuhi untuk menamatkan terjemahan  Zhu Xian sampai chapter terakhir dari Part 4
sampai jumpa dilaen waktu....

5 comments:

Anonymous said...

Terima kasih banyak suheng atas jerih payahnya yg telah mentranslate sampai sejauh ini, kalau boleh minta, tolong juga diteruskan lanjutannya....

dhaniepudlian said...

terima kasih gan, lanjut terus...

hoaaamz said...

Thks cerita nya kakak..
Kalau boleh tau, ceritanya masih dilanjutkan G̶̲̅ªªќ>:/?

roy chandra said...

Suheng, ƙαlôô boleh tau....
Untuk zhu xian eng, ϐȋ̊ša̶̲̥̅ di translate dari link mna ya....
Soalnya di jd.forum uda macet, cuman smpai chapter 7 ªjª....
Makasih sebelumnya.

"emas indri" said...

@Roy- betul, saya acuannya dr jd forum, english lebih mudah dipahami
@all- saya coba untuk lanjutkan, tapi mungkin tidak serutin biasanya, karna kerjaan lagi padet, plus beberapa hal lagi yg musti diselesaikan
rgds