Saturday, November 17, 2012

“Zhu Xian Indonesia - Part V - Chapter 3 - Scholar Bag. B “




Bagian 5 Bab 3 Scholar B


Dia duduk disana sepeti itu terus, terpaku menatap abu, sampai ia tiba-tiba menemukan nyanyian menyenangkan burung burung di hutan telah berubah menjadi diam. Rasanya seperti mereka mencium bau kebencian yang kuat dan menyebabkan mereka tidak mampu bersuara.


Lalu, dia melihat bayangan, perlahan-lahan keluar di belakangnya dan menyelimuti dirinya.


Meskipun itu masih pagi, langit sudah berubah gelap.


Bilu cepat memutar kepalanya, menatap orang yang berdiri di belakangnya. Setelah beberapa saat, dia menangis sedih: "Ayah ......!" Dan jatuh ke dalam pelukan orang itu.


Bahwa sosok gelap juga kaget, tidak menyangka Bilu akan memberikan reaksi seperti itu. Tapi dia senang melihat putrinya lolos dari kemalangan, kebahagiaan ini tidak bisa disembunyikan.




Shaw Danon akhirnya meninggalkan gunung Kongsang setelah seharian berjalan di hutan. Jika ia terbang, ia dapat saja lebih cepat. Tetapi karena ia khawatir tentang luka lengan kirinya, ia memilih untuk berjalan sebagai gantinya. Tapi Gunung Kongsang  jarang penduduknya, dia tidak bisa melihat siapa pun di perjalanan.


Setelah satu malam tidur di tempat terbuka, Shaw Danon memasuki jalan utama. Jalan itu lebar dan terlihat ada lebih banyak orang. Dia bertanya pada para pelancong tentang arah, kemudian mulai berjalan ke utara.


Siang Hari itu terasa panas, Shaw Danon telah melakukan perjalanan sepanjang hari, mulutnya cukup haus. Ia melihat ada sebuah kios teh kecil yang terletak dibawah bayangan pohon. Sudah ada lima sampai enam orang duduk. Dia pergi ke sana dan meminta secangkir teh, dan beristirahat.


Teh dari kios teh kecil itu membantunya mendinginkan dan memuaskan dahaga nya. Shaw Danon merasa santai setelah minum secangkir teh. Rasanya seperti hari itu tidak panas lagi. Dia berpikir, karena cedera lengannya hampir pulih, di sore hari nanti, ia harus mencari tempat yang terpencil dan mulai terbang. Dengan begitu akan lebih cepat ketujuan, dan dia akan melihat tuannya lebih cepat.


Sementara ia berpikir, ia pasti tahu ia segera dapat melihat Hidi Shijie nya lagi, hatinya dibakar kegairahan. Kemudian, ia mendengar suara datang dari sisi jalan: "Pelayan, tolong siapkan untuk saya secangkir teh"


Angin langka dengan lembut  terbang siang itu, mengayunkan cabang pohon, membiarkan sinar matahari berpendar di tanah. Penjaga toko berusia sekitar Lima puluh tahun menjawab dan menuangkan teh. Shaw Danon tanpa disadari melirikkan matanya, seketika dia tidak bisa menggerakkannya kembali.


Ini adalah seorang sarjana paruh baya, dengan alis tipis dan wajah persegi. Alisnya dikultur, namun matanya cerah dan dahinya gemuk, ada kekuatan dalam keanggunan. Dia mengenakan jubah sarjana. Sebuah ornamen batu giok bercahaya ungu di pinggangnya, berukir indah, dengan energi positif yg lembut. Ornamen ini bukan barang umum.


Shaw Danon menatapnya selama beberapa saat, kemudian menemukan dia tertarik wibawa sarjana berusia menengah ini. Begitu ia masuk kios, termasuk Shaw Danon sendiri, pelanggan lain berubah menjadi diam, dan ditindas oleh kekuatan dari orang ini.

Shaw Danon mengalihkan matanya kembali. Hatinya kagum, dan sangat mengagumi wibawa sarjana berusia menengah ini. Meskipun orang ini tidak tampan, wibawa yang berasal dari dalam jarang ditemui.


Sarjana memasuki kios teh dan mengambil teh dari pelayan, lalu duduk, perlahan-lahan mulai mencicipi teh itu. Para pelanggan yang berbicara sekarang berbalik diam. Di kios teh, tiba-tiba sunyi dan sedikit canggung. Hanya sarjana paruh baya yg terlihat tenang, tidak mempedulikan apapun, minum teh dan santai saja.


Setelah beberapa saat, pelanggan lain satu per satu meninggalkan kedai setelah beristirahat cukup atau selesai dengan tehnya. Pelayan datang dan membersihkan meja. Di bawah pohon, hanya Shaw Danon dan sarjana paruh baya yg tetap ditempatnya.


Shaw Danon tidak merasa tidak nyaman, tapi setelah duduk beberapa saat, ia merasa bahwa ia telah beristirahat cukup. Ketika ia hendak membayar uang dan pergi, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara memanggil di belakangnya:


" Tuan Muda."


Shaw Danon terkejut. Suara itu lembut dan bersahabat. Dia berbalik dan melihat sarjana itu tersenyum ramah padanya. Shaw Danon bertanya: "Tuan, Anda memanggil saya?"


Sarjana mengangguk sambil tersenyum: "Benar." Lalu ia bangkit, perlahan-lahan berjalan kepadanya. Shaw Danon juga bangkit, ketika ia datang mendekat, ia melipat tangannya: " Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda Tuan"


Sarjana paruh baya memperhatikan Shaw Danon, dan mengatakan: ". Tidak ada, hanya sedikit bosan dalam perjalanan, dan saya tertarik pada tuan muda, jadi datang dan ingin mengobrol. Saya berharap Tuan muda tidak keberatan"


Shaw Danon cepat menggelengkan kepalanya: "Tidak, silakan duduk Tuan."


Sarjana mengangguk sambil tersenyum, mengatakan: "Mari, Tuan muda silahkan duduk juga."


Mereka duduk, sarjana memandang Shaw Danon, mengatakan: "Bolehkah saya bertanya, siapa nama  tuan muda terhormat ini"


Shaw Danon dibesarkan di Desa Grasstemple, kemudian diadopsi oleh Jadeon. Selain murid Gunung Jadeon Bamboo Peak, dia hampir tidak pernah berbicara dengan orang luar. tentu saja, hari-hari ia terperangkap di Forsaken Abyss  dengan Bilu tidak dihitung. Ketika ia berbicara dengan cendekiawan, dia menghormatinya tanpa alasan. Dia hormat menjawab: "Saya adalah Shaw Danon, siapa nama tuan ?"


Sarjana itu bergumam: "Shaw Danon," kemudian mengangguk, tersenyum, "nama saya adalah Wan, nama lengkap saya Ren Wang."


"Wan Ren Wang!" Shaw Danon berbicara dalam hatinya. Nama ini sederhana, tetapi memiliki jenis perasaan kepahlawanan didalamnya. Shaw Danon meliriknya. Wajah Wan Ren Wang terlihat lembut, tapi wibawa diantara alisnya itu seperti sesuatu yang ada sejak lahir. Dengan namanya, ada makna kepemimpinan (Wan Ren Wang dalam bahasa Cina adalah Ribuan orang maju).


Wan Ren Wang memperhatikan Shaw Danon, kemudian tersenyum: "Maafkan aku karena bertanya, apakah tuan Zhang seorang kultivator?"


Shaw Danon terkejut. Ketika ia, Kevern dan lain-lain meninggalkan gunung, mereka telah berganti pakaian Jadeon mereka ke baju biasa. Mereka tampak tidak berbeda dari orang normal. Bagaimana mungkin pria paruh baya bisa melihat perbedaan itu.


Ketika Shaw Danon ingin bertanya bagaimana dia tahu, bahwa pria paruh baya itu menunjuk ke utara, dan tersenyum: "Tuan Zhang, benarkah Anda anggota faksi terbesar  Jadeon?"


Shaw Danon lebih terkejut, ia bangkit, menatap Wan Ren Wang, bertanya: "Tuan Wan, bagaimana Anda-Anda tahu"

3 comments:

Anonymous said...

Wah tokoh bbaru lagi, suhu kejar tayang please. Mudah2an suhu sdh tidak sibuk, bikin penasaran ceritanya ...

Anonymous said...

betul...betul...betul!!! makin bikin penasaran, muncul lagi tokoh baru...lanjut suheng!!....

Anonymous said...

mantap...lanjut suhu