Wednesday, December 12, 2012

“Zhu Xian Indonesia - Part V - Chapter 8 - Dark Drake Cave Bag. A“


Bagian 5 Bab 8 Gua Dark Drake  A

Mereka mengerutkan kening. Wanita penyihir mengeluarkan esper aneh ketika ia terkepung, ia mungkin berniat bertempur sampai mati. Semua orang terpana, kecuali Onara, yang berteriak dan menyerang dengan Shatterer nya.

Sebelum Shaw Danon mendapat kesempatan untuk mengatakan padanya "hati-hati", mata lembut roh rubah  ekor tiga  melirik Onara, dan perlahan-lahan mengangkat cincin giok dengan kedua selempang merah, menaruh itu di depannya.

Cincin giok sedikit berubah, memantulkan bayangan wajahnya.

Cahaya bulan yang dingin bersinar di Cermin Neraka. Totem api kuno seperti hidup. Seolah olah hidup dan seperti benar-benar terbakar.

Onara naik ke udara dengan Shatterer nya, dan berteriak: "Mati kau Iblis!"

Dan pada saat itu, pusat dari Cermin Neraka, di mana totem menyala terletak, telah berubah menjadi jelas, merah terang, menyala dari warna aslinya merah  gelap. Hanya dalam sekejap mata, totem api telah dinyalakan oleh api ilahi.

Totem api telah menjadi kobaran api.

Dengan wanita Penyihir sebagai pusatnya, panas tak terlihat dengan cepat menyebar ke segala arah. Kecuali tanah di mana ia berdiri di atasnya, semua tanaman dalam radius tiga meter berwarna coklat. Namun anehnya, tidak ada percikan atau api.

Shaw Danon dan Bilu ketakutan. Mereka tidak pernah menyangka roh rubah ekor tiga memiliki esper kuat seperti itu. Onara, yang berada di udara, juga melihat apa yang terjadi. Meskipun ia terkejut oleh kekuatan esper itu, tapi ia tidak takut. Tangan kanannya menggenggam cahaya emas dari Shatterer ke tangannya. Dia memutarnya, menyebabkan lengkingan nyaring, dan menghantamkan ke kanan menuju kepala roh rubah ekor tiga.

Sementara benda itu sendiri masih di udara, debu sudah diaduk di atas tanah. Tubuh rentan roh rubah tampak seperti akan tertiup pergi oleh angin kencang. Tapi dia tersenyum dingin, jari-jari dari kedua pasang tangannya menggenggam selempang merah, mengarahkannya ke Onara.

Cermin neraka yang terbakar terpantul dalam matanya seperti sepasang api mengamuk.

"Duaarrr!!"

Diiringi Ledakan keras, naga api melonjak sengit keluar dari totem di tengah Cermin Neraka, mengejutkan langit dengan kekasaran nya. Seluruh tubuhnya ditutupi dengan kobaran api, menerangi hutan seperti siang hari.

Onara terkejut. Naga Api dengan cepat membesar. Itu hanya berupa api ketika keluar dari Cermin Neraka, tapi sekarang kepala naga sudah seukuran dua orang dewasa. Terutama panas yang keluar, cukup kuat untuk menyebabkan seseorang meragukan apakah itu hanya sebuah tipuan belaka.

Shaw Danon bisa melihat dari bawah sana, Onara di bawah kekuatan naga api besar, rambutnya dari normal telah mulai menguning bahkan sebelum mereka memulai sebuah pertempuran. Bisa dibayangkan situasi apa yang dihadapi Onara.

Meski Onara terkejut tapi ia tidak takut. Di bawah pesona kekuasaannya, cahaya keemasan Shatterer menjadi lebih cerah, menyerang kepala naga.

Api naga meraung di udara, sepasang mata besarnya memancarkankan cahaya amukan api. Dia membuka rahangnya, ingin menelan gada raksasa itu.

Cahaya emas dan merah cepat menyebar keluar dari pusat, bersamaan dengan itu guntur seperti meledak. Onara bisa merasakan Shatterer di tangannya itu begitu panas bahkan ia tidak bisa lagi menahannya. Di bawah keterkejutannya, ia menggunakan seluruh kekuatannya dan mengeluarkan Shatterer dari mulut naga.

Naga Api menari-nari di langit, meraung dan membuka rahang, menembakkan pilar api raksasa ke Onara.

Onara meraung, kedua tangannya membuat tanda incanation, menempatkan Shatterer dihadapannya, membangkitkan dinding cahaya keemasan dan memblokir pilar api, namun tubuhnya didorong kembali oleh kekuatan besar.

Shaw Danon melihat Onara berada dalam kerugian dan dalam bahaya, ia dengan cepat dan tanpa suara membangkitkan tongkat api, ditembakkan kearah naga api. Tapi naga api tidak perlu melihat untuk menyadarinya. Dia memutar kepalanya, membuka rahangnya, pilar api lain keluar dari mulutnya.

Shaw Danon tidak siap, tidak ada ruang untuk menghindari gelombang api. Dia menggertakkan giginya, sihirnya tetap disalurkan. Tongkat api bersinar dengan cahaya hijau, memblokir pilar api.

Pada saat itu, roh rubah ekor tiga mengeluarkan tawa panjang. Dia naik ke udara dan berlari menuju keduanya dengan Cermin Neraka bersinar terang di tangannya. Shaw Danon dan Onara sedang berjuang melawan naga api, mereka berdua terkejut. Bahkan Bilu, yang berdiri di belakang roh rubah  juga cukup terkejut. Dalam situasi yang mendesak, Bilu berteriak, naik ke udara. Jari-jarinya tangan kanannya bengkok. Heartending Flower berubah menjadi kelopak yang tak terhitung jumlahnya, memenuhi langit, dan menyerang roh rubah dari belakang.

Di tempat di mana tak seorang pun bisa melihatnya, tangan kiri Bilu diam-diam ditempatkan di pinggangnya, memegang lonceng emas kecil di tangannya.

Roh rubah ekor tiga tampaknya tahu kekuatan Heartending Flower. Dia berkelit dan tidak menghadapinya secara langsung. Bilu tidak mengejar, ia berlari ke arah Shaw Danon, berdiri di sampingnya, terapung di udara.

Shaw Danon mengangkat kepalanya, melirik padanya. Dan mata Bilu saat itu juga berpaling kepadanya.

Shaw Danon, untuk beberapa alasan, memalingkan wajah segera.

Api naga masih dipamerkan di langit. Namun, tanpa ragu-ragu, setelah Bilu menyerang dirinya, rohrubah melambaikan tangannya, memanggil kembali Cermin Neraka, kemudian, ia berubah menjadi cahaya putih dan menghilang ke dalam kegelapan hutan.

Ketiganya tak mengira dan cuma bisa terpana.

※ ※ ※

Di kejauhan, Tanis Ka menghela napas panjang: "Bagus, bagus, Ini menunjukkan bahwa kultivasi roh rubah roh tidak cukup kuat, tidak bisa memaksimalkan kekuatan Cermin Neraka, tetapi hanya bisa menakut-nakuti pemuda pemuda itu. Dengan.... kekuatan sejati Cermin neraka, para pemuda itu pasti berada dalam bahaya."

Tonni berkata sedih: "Bagaimana Anda tahu kultivasinya tidak cukup? saya melihat bahwa dia tidak dirugikan meski satu lawan tiga.?"

Tanis Ka memelototinya, berkata:... "Apa yang Kau ketahui. Cermin Neraka adalah benda dewa kuno, sangat kuat. Nenek moyang mengatakan, pada tahap yang paling kuat, ia dapat memanggil Naga Wasteland, membakar segala sesuatu di dunia ini. Dia akan mengubah anak muda anak muda arogan itu menjadi kehampaan, bahkan abunya pun tidak tersisa. "

Tonni mendengus, mengabaikannya, menoleh kembali ke TKP. Dia tiba-tiba mengerutkan kening, mengatakan: "Kakek, sepertinya mereka akan mengejar."

Tanis Ka terkejut, ia dengan cepat berbalik dan menemukan Shaw Danon dan yang lain pergi lebih dalam ke hutan, di mana roh rubah menghilang. Setelah mereka berdiskusi. Onara pergi dulu. Shaw Danon mengambil beberapa langkah tapi kemudian menemukan Bilu tidak bergerak. Dia berbalik menghadapi Bilu, hendak mengatakan sesuatu, tapi ia berhenti. Wajahnya memerah sedikit.

Bilu tersenyum, dalam diam memarahinya, kemudian baru bergerak. Shaw Danon terkejut, lalu menggelengkan kepalanya lalu mengikuti.

Tanis Ka tertegun, menghentakkan kakinya, lalu mengatakan: "Mereka masih muda, benar-benar tidak takut mati, roh rubah memiliki Cermin Neraka di tangannya, namun mereka masih memiliki keberanian untuk mengejarnya.."

Tonni menggigit lollipopnya (dia tidak pernah membuangnya), berkata dengan tenang:. "Bukankah kau 'senior' baru saja mengatakan tentang kultivasi roh rubah tidak cukup kuat untuk membangkitkan kekuatan penuh dari Cermin Neraka. Jika demikian, maka dia seperti tidak memiliki Cermin Neraka, Lalu Apa yang para pemuda itu takutkan?. "

Tanis Ka membisu, seperti tersedak dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Setelah beberapa saat, ia teringat sesuatu, cepat berkata: "Cepat, kita harus pergi juga!"

Kali ini itu Tonni yang terkejut: "Pergi kemana?"

Tanis Ka berjalan dengan langkah cepat, mengatakan: "Tentu saja untuk membunuh setan"

Tonni mengikutinya dengan senyum dingin di wajahnya, lalu mengatakan: "Di masa lalu, Anda berlari  bila bertemu setan, tidak besar dan tidak pula setan kecil , mengapa saya hanya bisa melihat Anda lari, Aku tidak pernah melihat Anda benar-benar membunuh mereka ? "

Tanis Ka tersipu, lalu mengatakan: "Kami pengembara, yang paling penting adalah mengetahui keterbatasan kita sendiri ........ eh"

Kata-katanya belum terselesaikan ketika dia berhenti berjalan. Perhatiannya tertarik pada sesuatu yang lain. Mengikuti arahnya, Tonni menemukan Tanis Ka melihat sesuatu, tenang tanpa gerak, berada di dalam sumur kuno.

4 comments:

Mei Shen said...

nextttttttttt ^o^

Anonymous said...

setelah dinanti beberapa hari akhirnya datang juga, terima kasih suheng... lanjuttt!!!

Anonymous said...

Akhirnya ... Mudah2an selisihnya bisa ketemu, thank suhu.
Lanjutin ya suhu sampai tamat

Edi Saputra said...

lanjut suhu...thx atas jerih payahnya....